Langsung ke konten utama

Sama-sama Nama, Sama-sama Apes!

Di sekolah, kalian pastinya punya kakak kelas, adik kelas, teman atau bahkan guru dengan nama yang sama antara satu dengan yang lain. Misalkan saja nama-nama mainstream seperti Dwi, Nurul, Putri, Fitri, Yuli dan lain-lain.

Saya salah satu dari murid yang punya kesamaan nama di sekolah. Saat itu, saya sudah SMA. Biasanya nama sama, belum tentu nasib kita sama. Tapi kali ini, saya dan orang ini sama-sama apes.

Saat itu saya kelas 2 SMA, sementara dia kakak kelasku. Dia sudah kelas 3. Tidak hanya dari segi nama, kami punya kesamaan lain di berbagai sisi. Kami sama-sama perempuan, sama-sama jurusan IPS, dan sama-sama mengikuti perlombaan Ekonomi.

Dari sinilah kisah itu bermula. Punya nama sama ketika kami melakukan pertemuan dengan guru, dibuatlah perbedaan itu. Saya dikenal dengan Alfi Ramadhany, dan dia sebut saja "Cantik".

Cantik sudah lebih dulu mengikuti perlombaan Ekonomi itu, sehingga beberapa kali saya diminta untuk belajar dari dia. Karena saya juga jurnalis sekolah, ketika dia lolos ke tingkat nasional bersama timnya, saya pun membuat berita dan mewawancarainya. Sejak saat itu saya dan cantik akrab, terlebih lagi dia juga berpacaran dengan teman sekelas saya.

Setahun berlalu, saya kelas 3 SMA. Cantik sudah lulus sekolah dan masuk universitas negeri di Samarinda tanpa tes. Dia memang pintar, prestasinya pun banyak. Jadi wajar saja jalur undangan yang didapatkannya bisa meloloskannya.

Sejak Cantik kuliah, saya tidak banyak berkomunikasi dengan dia. Paling-paling hanya tahu kabarnya dari media sosial atau dari pacarnya yang masih menjadi teman sekelas saya.

***

Setahun kemudian, nasib saya lagi-lagi sama seperti Cantik. Saya lolos di universitas negeri di Samarinda tanpa tes. Tapi fakultas kami berbeda. Cantik memilih bidang Ekonomi, sementara saya ingin menggali lebih dalam tentang ilmu komunikasi.

Lolos di Samarinda membawa saya dan Cantik kembali intens berkomunikasi. Saya sempat meminta tolong dicarikan kost-kostan dengan Cantik. Meskipun bukan kost-kostan rekomendasinya yang akhirnya saya tempati.

5 Juni 2012, saya datang dari Tarakan ke Samarinda bersama beberapa teman. Ketika saya sudah lolos tanpa tes dan harus melakukan verifikasi data saat itu, teman-teman saya berjuang untuk seleksi masuk perguruan tinggi.

Tidak ada yang merasa akan punya nasib buruk ketika kami bersama-sama memulai perantauan. Hingga suatu saat, Cantik menghubungiku untuk meminta bantuan. Saat itu saya sedang santai-santai saja di kost bersama Jayanti, Syabira dan Daniyati.

"Alfi, bisa minta tolong?" tanyanya lewat sms.

"Minta tolong apa, Kak?"

"Aku mau balik ke Tarakan, ada acara. Ternyata pas juga ada ujian mendadak. Kamu bisa gantiin kah?"

"Memangnya gak papa digantiin gitu? Kalau ketahuan?" tanyaku yang saat itu masih polos ala calon mahasiswa baru.

"Gak papa. Nanti kamu dibantuin sama teman-temanku. Mahasiswanya satu kelas itu banyak,.jadi gak mungkin juga dosennya ngenalin muka kita," katanya.

Dengan rencana yang matang, dan perasaan penasaran menjadi mahasiswi. Saya menerima permintaan tersebut. Saya gantikan Cantik diujiannya hari itu, dan orang lain menyebutnya "joki ujian".

Pagi-pagi saya dijemput teman-temannya. Saya diberi kertas kartu ujian, dan tempat duduk jauh di belakang agar tidak banyak yang menyadari kehadiran saya. Teman-teman Cantik pun duduk di sekitar saya, kalau-kalau saya merasa kesulitan menjawab saya bisa menyontek.

Tapi hari itu, ujiannya Bahasa Indonesia. Soalnya cukup mudah. Saya menulis dan menjawab sebisa saya dengan percaya diri. Sebelum akhirnya, giliran saya menandatangi absensi. Daftar absen itu ada di atas meja saya, saya mencari nama Cantik di kertas itu bolak-balik, tapi saya tidak melihatnya sama sekali. Hingga akhirnya pengawas ujian mendatangi meja saya dan curiga.

"Kenapa? Masa gak hapal NIMnya? Mana kartu ujiannya?"

Ampun deh deg-degan! Di kartu itu, foto Cantik tertempel dengan jelas, dan saya bukan dia.

"Ini nih, tanda tangan. Jangan-jangan lain kamu lagi ni!"

Pengawas itu bikin saya tersentak. Dia pun menyadari.

"Iya, lain kamu kan ini? Ikut saya ke ruang dekan!" perintahnya.

Saya hanya bisa terdiam dengan peristiwa yang baru saja saya alami. Tidak terlintas sedikitpun jika hari itu menjadi kejutan yang tak diinginkan.

"Kamu semester berapa? Kok bisa jadi joki?"

Tanya seorang wanita paruh baya di hadapan saya. Ternyata wanita ini seorang dekan. Saya mulai diinterogasi saat itu.

"Baru mau kuliah, Bu"

"Loh? Kok bisa?"

Saya pun menceritakan kronologis mengapa saya bisa sampai berada di sini. Sementara Cantik, yang saat itu berada di Tarakan, merasa bersalah. Saya bahkan menceritakan bahwa saya juga calon mahasiswa baru di fakultas sebelah yang diterima melalui jalur undangan.

Sepertinya saya terlalu detail menceritakan latar belakang saya dan Cantik. Hingga akhirnya, kami pun harus menerima hukuman. Cantik di skorsing selama 1 semester, dan saya harus berlapang dada dengan dibatalkannya jalur undangan saya meskipun telah melakukan verifikasi.

Akhirnya saya harus mengikuti ujian mandiri untuk kembali masuk universitas di jurusan yang saya inginkan. Jangan salahkan Cantik, dia sangat bertanggung jawab. Biaya kuliah saya di semester pertama saat itu ditanggungnya. Kami bertemu lagi, Cantik meminta maaf atas ide tak wajar itu. Yang dia sendiripun heran, mengapa ide itu terlintas. Mungkin, karena nama kami sama, sehingga dia merasa memiliki pengganti. Seperti anak kembar.

Hehehe... Nama sama, sama-sama juga apesnya. Lama saya tak mendengar kabar Cantik. Semoga dia selalu sehat dan bahagia. Sukses selalu, kak Cantik!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Penting Happy

Wah... Ulangan selesai,, libur pun tiba. Pembagian raport berlangsung biasa2 aja. G da yang spesial karna nilai raport pertamaku di kelas 1 SMA pas2an ,. G masalah!!! Aku akan berjuang di semester selanjutnya. Liburan d mulai tanggal 20 Desember 2009 sampe 3 Januari 2010 ... Mantep !! Tapi g berangkat nich.. tetep bertengger di Kota ku tersayang Kota Tarakan.. Tak apalah.. Masih bisa jalan bareng temen2. Lebih baik bersepeda mengitari kota suka-suka.. *goyang2 ala The Changcuters* Ayo !! Apa lagi selanjutnya ?? Hmm... Nongkrong di Lab. komputer sekolah ??? Sambil ngerjain tugas web yang belum kelar2 itu ??? Oke lah.. Aku selalu iya2 aja *dasar tak punya pendirian* yang penting wifi-nya bisa connect !! Tunggu... aku dapat sms,. *ngutak ngutik hp* Wiiii....... Liburan latihan Marching , chuy !! No problem.. Lebih asik tuch. Mengisi liburan dengan kegiatan sekaligus wahana berkumpul bareng temen2 juga. Hmmm... *mikir nyari ide buat liburan* Oh,iy !!! Nyari novel baru kaya'nya oke j...

Menjawab yang Penasaran

Assalamu’alaikum Wr. Wb.. Selamat malam Terima kasih bagi siapa-siapa saja yang telah mengunjungi blog ini. Maaf karena belum bisa mengembangkan cerita. Tapi syukur saya ucapkan, Alhamdulillah. Dua pekan berupaya konsisten mem-posting tulisan membuat saya cukup puas dengan pengunjungnya. Tidak ada target pengunjung sama sekali ketika saya mulai mengetikan prolog di blog ini. Hanya beberapa teman yang meminta untuk melanjutkan menulis dengan gaya saya sendiri. Ternyata konsisten itu sulit. Di tengah-tengah kesibukan bekerja, setiap hari saya memikirkan tema apa yang akan saya ceritakan. Hingga pada akhirnya, saya menuliskan jadwal untuk tema-tema yang akan saya angkat selama dua pekan ke depan. Sejak dua hari yang lalu, statistik pengunjung di blog saya berubah. Cukup tinggi. Terhitung hingga hari ini sudah ada dua ribu lebih viewers yang tercatat. Sebenarnya bukan apa-apa, tapi seperti yang saya katakan di awal, saya tidak punya target. Mendapati pembaca dalam sehari 2...

Mia Khalifa Ngasih Love

Bekerja di industri media sebenarnya tidak banyak menjanjikan kehidupan saya bisa lebih baik secara materi. Media cetak tumbang, media online masih merangkak. Namun, itulah risiko yang harus dijalani. Kalau memang tahu tidak bisa kaya, kenapa tetap bertahan? Padahal manusia selalu diberi pilihan, " just take it, or leave it ". Ketika saya memilih untuk tetap berada di industri ini, keyakinannya adalah tidak ada yang sia-sia jika kita terus belajar dan berjuang memperbaiki keadaan. Bersama tim tentunya. Keinginan menjadi seorang wartawan di karier profesional sudah saya raih di awal tahun 2017. Enam bulan bekerja, jabatan reporter saya dirotasi. Saya ditarik menjadi Social Media Specialist (selanjutnya disebut tim socmed) bersama Tim Online. Tim socmed terdiri dari tiga orang. Dua orang sudah lebih senior, sedangkan saya anak bawang. Di Tim Online sendiri ada empat divisi lain selain socmed yakni, editor online (uploader), reporter online (secara khusus melakukan live stre...

Banyak Omong !!!

Astaghfirullah .. Lamanya udh aq g pernah posting lagi.. :'( Banyak banget pengalaman baru .. ckckck *geleng-geleng* Mulai dari mana, ya ? Oh,iya.. Aq udah jadi anak IPS , nih .. Akhirnya udah bisa nentuin waktu itu .. Memilih jurusan IPS untuk masa depanku selanjutnya.. *hwhwhwhwhw :D* Sekarang udah di R11s Satoe (Republik 11 IPS 1) haha,, bukan X-C lagi.. >. Dengan jumlah siswa yang seharusnya adalah 31 siswa, kini berubah seketika karna ada yang pindah dan bla.bla.bla.. Sehingga hanya 29 siswa yang tersisa di dalam ruangan itu.. *plak* Jangan-jangan bakal ada yang menyusul keluar dari kelas ini .. *Zrroottt..aduuhhh.. bentar.. Ingus meler.. oke lanjut lagi..* Sekarang aq mw ceritain tetang hubunganku saat ini dengan si Jelegh .. wkwkwkwk *weeek:p* Kami dalam sebuah hubungan jarak jauh atau long distance relationship, alias LDR . Terasa sulit memang, tapi itulah hidup, harus dijalani meski tak mudah. Apa lagi waktu itu dia berangkatnya mendadak, gak enak banget. Sampe-samp...

Fix! Kita Beda Aliran

Semakin boomingnya grup idol mengingatkan saya dengan Kak Riko. Ada satu kisah yang mungkin terkesan kekanak-kanakan, karena saya dan Kak Riko berbeda pandangan terhadap aliran musik. Kalau mengingat hal ini, saya sering kali tertawa. Ya, tapi memang rasanya sulit menerima. *** Tahun 2012 Kak Riko demam-demamnya dengan kelompok musik yang disebut grup idol. Seperti JKT48 begitu. Boyband dan girlband Korea juga. Saat itu yang sedang hangat diperbincangkan adalah SNSD, Super Junior, AKB48, JKT48 dan lain-lain. Ini saya juga tidak banyak tahu, karena bukan penikmatnya, ya. Kak Riko penikmat musik-musik ini. Karena saya tidak suka, saya juga jadi ilfeel sama Kak Riko. Padahal tidak salah juga sih, namanya juga punya kegemaran sendiri. Tapi saya merasa, Kak Riko terlalu fanatik saat itu. Rasanya aneh saja, ada laki-laki yang sebegitunya dengan grup-grup idol seperti ini. Meskipun saat ini para fanboy itu sudah menyebar tanpa menutupi diri lagi. Oke, saya terlihat seperti seseorang ya...